Materialists

 Haii guys.

Udah lama banget rasanya kayanya aku gak nge-post di Blog ini huhu :( ga sempet... sering banget tuh muncul ide untuk nulis di pikiran.. tapi karena berbagai kegiatan dan tugas kehidupan, akhirnya tidak terlaksana :") begitulah. dan Alhamdulillah sekarang ada kesempatan, niat, dan waktu, dan ide... j

Jadi di post kali ini aku pengen menulis tentang "materi" atau barang. Aku mulai dari cerita tentang kejadian hari ini yang bikin aku terpikir post ini dulu yaa. Nah jadi ceritanya, kan helm-ku rusak bagian kacanya.. turun-turun terus, dan bautnya lepas satu. Jadi kalau aku bawa motor itu, suka terbang dan bunyi berisik gitu. Nggak nyamaan deh. Apalagi juga aku kalau bawa motor lebih nyaman naikin kaca-nya ke atas. Terus aku tuh udah kepikiran untuk beli helm, dari 1 minggu yang lalu. 

Udah kepikiran tuh di kepala, antara mau beli online atau dateng langsung ke tempat jual helm terdekat dari kosku. Terus singkat cerita, aku baru sempet nyari-nyari jual helm online di aplikasi oren, tuh tadi pagi.. aku coba scroll beberapa helm-kan. Ada beberapa helm yang aku pengen dan harganya sekitar 100k - 150k. Terus itukan bisa gratis ongkir yaa, jadi aku mikir "Wow murah bgt, mending beli online ajaa kan, aku ga perlu ribet keluar kos, bawa motor, nyari helm, nanya2, dll.". Tapi terus aku mikir lagi, "kalo misal helm-nya dateng dengan kondisi harus dipasang dulu kacanya mandiri gt, belum tentu aku bisa masangnya... dan belum tentu helm yang datang itu sesuai ekspektasi aku, dari segi besarnya dll. Sayang juga kan duitnya kalo ternyata aku kurang suka dan kurang nyaman pake helm-nya."

Jadi, meskipun harga helm online itu lebih murah, ada resiko juga yang harus siap aku hadapi. Setelah itu, aku mikir2 dan menimbang2. Karena kan kalau akhirnya mau beli online, lebih baik aku checkout secepatnya, supaya lebih cepat sampainya. Karena ya minggu depan aku butuh helm-nya. Akhirnya aku kepikiran untuk coba ke tempat jual helm dan tanya apakah bisa kalau ganti kaca helm-nya aja. Terlebih, pas aku cek kondiis helm-ku, sebenernya memang masih cukup bagus, cuma bagian kaca dan bautnya aja yang bermasalah. Lalu, singkat cerita, meskipun cuaca di luar kosku menunjukkan awan mendung yang gelap banget, aku pun memutuskan untuk tetap keluar kos, dan dateng ke toko offline helm yang udah aku coba cari di Google Map, sekalian mau beli makan siang dan minum (karena lebih murah dibanding kalo beli online). 

Di tengah jalan, awalnya hujan rintik-rintik, terus pas hujannya deres banget, alhamdulillah aku udah sampai di tempat toko jual helm-nya. Pas sampai di sana, aku langsung tanya apakah bisa ganti kaca helm aja, dan bapak-nya bilang mau dicoba dulu. Terus beliau sempat bertanya apakah gapapa kalau kaca-nya agak kepanjangan dikit, aku bilang gapapa.. 

Singkat cerita, alhamdulillah ternyata bisa, dan bautnya juga diganti, dan ternyata kaca-nya cukup bagus dan okee. Dan lebih wow-nya lagi adalah total harganya cuma sekitar 45k...:") alhamdulillah. Setengah lebih dari budget yang aku siapkan untuk beli helm baru. Seneng bangeet! Setelah beli helm, aku beli Ice Matcha-Choco dan beli Mie Ayam Bakso + Es Jeruk. Dan total harga minuman + makanan ini, cukup jauuh lebih murah dibanding kalau aku pesen online, dengan kondisi hujan cukup deras seperti saat itu :""") 

Jadiiii, hikmah dari cerita hari ini adalah mindful buying. Setelah aku pikir-pikir, helmku yang saat ini itu masih bisa diperbaiki dan dipakai, kenapa aku harus beli baru? Emang siih, kalo dari segi warna dan desain, kalau dibanding yang aku liat di aplikasi jualan online tadii, rasanya banyak yang warna dan bentuknya lebih lucu, dan sizenya lebih sesuai kepalaku (sepertinya). Tapi terus aku jadi terpikir, kalau aku beli helm baru, helm-ku yang sekarang ini kan kemungkinan akan aku buang.. nah nantinya akan jadi limbah:") dan aku teringat udah betapa menumpuk, dan banyaknya limbah di Indonesia ini. Dengan aku masih menggunakan helm ini, dan tidak membeli yang baru, menurutku aku bisa mengurangi 1 limbah yang akan menumpuk.. (walaupun belum tentu akan jadi limbah ya, bisa aja mungkin diambil orang terus diapain? gatau??). 

Tapi ya gitu, alhamdulillah aku senang dengan pilihanku hari ini. Terus juga dengan aku yang membeli makan dan minuman sendiri, aku jadi bisa menghemat uangku (untuk ditabung dan dipakai di kemudian hari). Yaa meskipun emang pada dasarnya ini semua akarnya adalah pengen hemat, dan irit terhadap pengeluaran :"D tetapi ternyata hal-hal tersebut alhamdulillah memberikan kelegaan dan kepuasan tersendiri bagiku😁 Harapannya, untuk kedepannya aku bisa terus mindful, considerate dalam menyimpan dan menggunakan uangku, ataupun ketika akan membeli (menambah) atau mengurangi barang yang aku miliki😊 mirip sama konsep minimalist. Kayaknya aku tertariik deh sama konsep hidup minimalis, walaupun mungkin belum sepenuhnya bisa aku terapkan. Fyi, aku udah coba baca beberapa halaman buku tentang hidup minimalis berjudul "The Joy of Less", tapi belum sempet aku selesaikan. 



Dan hari ini, tadi aku juga abis selesai nonton film berjudul "Materialists". Aku pikir, cukup berkaitan juga dengan kejadian dan pikiranku hari ini :"D tapi bedanya sih film tersebut lebih mengaitkan uang/bisnis dengan hubungan romantis. Jadi yaaa, aku bingung juga kalau mau mengaitkan insight yang aku dapatkan tentang film itu di post ini wkwk. Film itu tuh mengasosisasikan hubungan romantis (dating) itu memang dari awal konsepnya seperti bisnis. 

Kalau kamu tidak suka dengap apa yang dimiliki/ditawarkan oleh pasangan, ya km punya hak kok untuk membatalkan kesepakatan (sebelum deal alias sepakat menikah). Which is, sebenernya aku gak sepenuhnya setuju sama pandangan tentang pernikahan di film ini yang sangat duniawi wkwkw "marriage is a business deal, and it always has been since the very first time two people did it. You can always walk away if the deal isn't good". Yaa namanya juga film barat. Tapi selain itu, aku juga dapat insight bahwa gimanapun itu, love has to be on the table. Choose someone you love, for marriage. Dan cinta itu gak ada matematikanya, sulit dihitung dan dijelaskan, azigg. 

Love should feel easy, dan mungkin, orang yang bener-bener mencintai pasangannya akan bingung ketika dia ditanya kenapa dia mencintai pasangannya. "I just do. it just feels easy.". Dan salah satu tanda kamu dicintai oleh orang yang tepat adalah ketika dia menunjukkan bahwa kamu itu berharga. Selain tentang hubungan romantis, aku juga belajar tentang komunikasi profesional si Lucy ke kliennya, dan tentang gimana "gagal" dalam dunia pekerjaan yang memberikan itu adalah hal yang wajar:"")  hal ini berkaitan dengan peran atau pekerjaanku nantinya insyaaAllah ketika aku bekerja sebagai psikolog, atau asesor, di bidang apapun itu.. Ya sudah deh daripada ini semakin panjang dan semakin luas, aku cukupkan dulu sampai disini postnya eheheh. Semoga bermanfaat, and thanks for reading <3


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat duduk di Kereta Logawa

Welcome to the Working world hey freshgrads!