Kamu Tetap Sahabatku, Kok.. Part I
TEEEEEEEETTTTTTTTTT. TEEEEEEEEEEETTTTTTTTT.
Bel sekolah tanda waktunya pulang berbunyi. semua murid pun bergegas membereskan barang masing-masing. "attention!" teriak ketua kelas. suasana langsung sunyi. semua murid duduk dengan rapi. "ready" jawab mereka dengan kompak. "before we go home, let's pray together. praying start!". semua murid pun menunduk. ada yang memejamkan mata sambil menadahkan tangan, dan ada juga yang berkomat-kamit membaca doa dengan pelan. seperti yang dilakukan oleh salah satu murid yang memakai jilbab biru tua . "praying finish, greet the teacher!" teriak ketua kelas-nya lagi. "GOOD BYE MAM IRMA" sahut mereka dengan nada yang khas. di sekolah swasta tersebut, semua murid diwajibkan memanggil guru mereka dengan sebutan "mam" / "miss" dan "sir".
"good bye every one, see you next time." jawab guru yang mereka panggil Mam Irma tersebut.
setelah itu mereka pun berlarian ke arah mam irma, dan saling berebut untuk menyalami guru mereka. tetapi, tidak dengan seorang murid yang tampak masih sibuk membereskan barang-barang yang ternyata masih berserakan di mejanya.
"ankiza.. besok jangan pakai jilbab biru lagi, ya?".
"tapi saya agak males,mam, pakai jilbab putih nggak enak." jawab ankiza.
"nggak enak? memang nya makanan nggak enak."
"hehehe, lagipula mam, kan lebih cocok nih rok nya biru, baju nya putih , jadi jilbab nya juga biru." ankiza menunjuk roknya.
"tapi peraturan sekolah jilbab nya putih, kiza.."
"iya sih mam. yaudah deh mam, besok kiza usaha in pake jilbab biru, eh putih maksudnya mam. hehehe. saya pulang ya mam, assalamu'alaikum..." pamit kiza kepada mam irma
"wa'alaikumsalam.." kata mam irma sambil terus menatap pundak salah satu murid kesayangannya dikelas itu.
Kasihan juga ya, anak-anak.. banyak sekali buku yang mereka bawa setiap hari. sampai harus membawa 2 tas yang masing-masing tas kembung-kembung gitu, pasti berat sekali..pikir Mam Irma.
Andai Mam Irma merupakan kepala sekolah di SMP Mari Bersatu itu, pastilah murid-murid menjadi bahagia. Pasalnya, Mam Irma itu termasuk sosok guru yang perhatian, peduli dan pengertian kepada murid-muridnya. Ia jarang memberikan PR. tapi, bukan berarti ia tidak peduli dengan muridnya. Namun, ia ingin anak-anaknya juga memiliki waktu untuk istirahat. Kan, disekolah sudah belajar.
Ankiza berjalan menuju halte dimana ia biasa menunggu jemputannya. jemputan yang datang nya tak menentu. jemputan langganannya yang setiap pulang sekolah ia naiki, namun tak ada satupun pengemudi jemputan tersebut yang kenal dengannya. jemputan itu ialah bus kota. ankiza selalu pulang ke rumah dengan busway karena orang tuanya yang super sibuk, sedangkan abangnya kuliah di luar negeri.
Sesampainya di halte, ankiza langsung mengeluarkan mp3 player kesayangannya yang berwarna hitam. sebuah lagu pun mengalun di telinganya. Hari ini, Fifi, sahabatnya yang setiap hari pulang bersamanya naik busway, pulang agak sore-an karena ada tugas kelompok yang harus dikerjakan disekolah, sehingga Ankiza pun pulang sendirian.
10 menit pun berlalu, dan bus masih belum memunculkan dirinya. 30 menit berlalu. tampak mobil besar berwarna hijau tua dengan tulisan dari lampu LED "Somewhere-Near Street PP" yang berada pojok atas mobil tersebut. setelah beberapa penumpang keluar dari bus, ankiza pun masuk dan duduk di sebuah kursi. Ia duduk kursi yang dekat dengan jendela. tujuannya adalah agar ia bisa melihat keluar. ankiza sangat suka mengamati jalanan, orang-orang, pohon-pohong, dan hal-hal lainnya dari jendela bus.
Tetapi sebenarnya seringkali, ketika ia memandangi pemandangan-pemandangan dari jendela bus, ia sering merenung. memikirkan apa saja yang tadi terjadi di sekolah, apa yang akan ia lakukan di rumah nanti, apa yang akan ia makan hari ini, maupun apa impian atau cita-cita nya. hm. impian? cita-cita? ankiza mengerutkan keningnya. ia benar-benar belum menentukan ingin jadi apa ia kelak. yang pasti ia ingin menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain.
Komentar
Posting Komentar