Adulting part 2

 Menjadi dewasa itu.. berarti menjadi lebih "mengerti dan menerima". Mengerti dan menerima orang lain yang mau datang ke kehidupan dan menerima orang lain yang mau pergi dari kehidupan kita. Mengerti dan menerima orang lain yang memang punya keinginan, mimpi, cita-cita, dan urusannya sendiri. Meskipun orang lain itu adalah orang yang kita anggap sangat dekat, sangat kita sayangi sekalipun. Tapi itulah realita menjadi dewasa. Orang lain yang saat ini tertawa bersamamu, yang membuatmu nyaman, yang membuatmu menyayanginya dan bahkan ia juga mungkin menyayangimu, juga adalah "seseorang" yang punya segala macam hal di dalam dirinya. Ia punya orang lain yang ia sayang juga, ia punya mimpi, cita-cita, harapan, nilai, pengalaman, yang mungkin sebagian besar kamu tahu, sebagian besar tidak. Dan menjadi dewasa itu berarti mengerti dan memahami bahwa sangat sangat wajar ketika orang yang kita sayangi tersebut mengutamakan "hal" tersebut dibandingkan kita. Dan menjadi dewasa itu adalah ketika kita bisa menerima, menghargai hal tersebut. Lebih bagus jika kita bisa memberi dukungan padanya. 


Menurutku, sangat tidak dewasa ketika ada orang yang dekat dengan kita yang justru marah dan tidak mendukung ketika kita ingin berkembang. Apalagi kalau ia menganggap dirinya dirugikan, menganggap bahwa semua orang harus mengurusnya dan memikirkannya. Karena itulah perbedaan dari remaja dan dewasa. Ketika kita remaja, mungkin kita merasa kita lah yang paling mengerti diri sendiri, kita memahami segala sesuatu dari sudut pandang diri kita. Lalu, ketika dewasa, jika kita memang sudah siap untuk melangkah ke jenjang berikutnya maka di tahap dewasa inilah kita belajar untuk memandang suatu hal dari sudut pandang orang lain. Di dunia dewasa ini, orang-orang tentu mengutamakan dirinya sendiri, mengurus dirinya masing-masing. Itu wajar, karena jika bukan kita yang mengurus diri kita, maka siapa lagi? Meski begitu, menurutku menjadi dewasa yang baik itu adalah ketika aku mampu untuk tetap mengutamakan diriku sendiri, mengurus diriku sendiri namun tetap berusaha untuk peduli terhadap orang sekitarku semampuku dan tidak memaksakan orang sekitarku untuk peduli dan mengurusiku. Jadi intinya ya kita tetap urus diri kita, urus orang lain sebisanya, tapi jangan maksa orang lain untuk peduli dan "momong" kita gitu. Karena sejujurnya aku perhatikan masih ada orang yang begitu, seolah inginnya diperhatiin, dipeduliin sama orang lain, dan bahkan mungkin suatu hal yang orang lain lakukan yang sebenarnya nggak ada kaitannya dengan dia, dihubungin dan dikaitin sama dia gitu. Seperti masih menggunakan sudut pandang "dia" aja. Orang yang kaya gini itu, biasanya sangat mengurusi kehidupan orang lain, bahkan orang-orang terdekatnya, orang yang dia sayang atau bahkan juga menyayanginya. Mungkin sisi baiknya sih dia memang suka membantu dan mengurus orang lain, tapi seringkali orang yang begitu tuh tidak mendukung dan ya tidak menerima orang lain yang memang memiliki kehidupannya sendiri gitu. meskipun orang itu adalah orang terdekatnya. Yah, semoga kita tidak termasuk orang yang seperti itu. Mari fokus ke diri sendiri, usaha untuk diri sendiri dan jangan terlalu berekspektasi banyak sama orang lain. Dan yang paling penting, lebih banyak mencoba untuk memahami, menerima dan menghargai pilihan orang lain:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat duduk di Kereta Logawa

Welcome to the Working world hey freshgrads!

Materialists