Acuh
helloo,
disini aku mau share salah satu cerpen yang pernah aku buat waktu SMA. sayang kalo disimpen gitu aja... so here it is. © 2018 by owner of this blog.
Acuh
6.30. Aku mengambil remote pendingin ruangan kamarku dan menekan tombol power off. Dengan cepat aku mempersiapkan diri dan memanaskan mobil kesayanganku. Pagi ini, seperti biasanya, papa masih belum terlihat batang hidungnya meski fajar sudah menyingsing. Ah,pasti lembur lagi, batinku. Alasan klasik Papa. Apapun itu, aku sudah
tak peduli lagi. Aku pun langsung bergegas mengendarai mobilku menuju sekolah.
Kebetulan, aku bersekolah di salah satu sekolah swasta di Jakarta dimana gerbang sekolah akan ditutup pukul delapan pagi. Walaupun begitu, tetap saja jam pelajaran akan dimulai satu jam sebelumnya. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit ketika aku tiba di sekolah. Itu berarti jam pelajaran sudah dimulai lima belas menit yang lalu. Setelah memakirkan mobil, aku langsung menuju kelasku yang terletak di lantai dua gedung di sekolahku.
Tidak, aku tidak perlu tergesa-gesa menuju ke kelas. Guru-guru pun sudah pasti lelah denganku. Mereka sudah paham bahwa mau berapa kali pun mereka men ceramahiku agar tidak datang terlambat lagi, aku tidak akan mendengarkannya. Mau mereka teriak sekali pun di telingaku, tidak akan berpengaruh apa-apa bagiku. Tidak ada yang berpengaruh lagi bagi hidupku sekarang.
Lagipula, biar saja masalahku terus bertambah banyak di sekolah ini. Dengan begitu, Papa pasti akan dipanggil ke sekolah. Biar dia tidak tahunya hanya kerja, kerja dan kerja. Letak kelasku saja, Papa pasti tidak tahu. Apalagi ulang tahunku yang jatuh pada tiga hari mendatang, tepatnya 8 September.
Setelah mengikuti serangkaian pelajaran yang sangat membosankan di sekolah, (walaupun tidak terasa karena aku tertidur hingga pelajaran berakhir) tibalah saatnya istirahat. Bagian paling menyenangkan dari sekolah. Karena memang sepertinya tak ada lagi yang mau berteman dengan anak sepertiku, di sekolah ini aku kemana-mana sendiran. Ke kantin pun sendirian. Tapi, siapa yang membutuhkan teman? Ketika butuh ia akan datang dan akan pergi ketika senang. Aku tidak butuh halseperti itu. Teman terakhir yang
kupunya namanya Nimas. Namun, entah mengapa lama-lama ia menjauhiku. Ia bilang aku berubah dan sekarang ia benar-benar meninggalkanku.
Pergi sekolah sendiri, pulang sekolah sendiri. Pergi ke kantin sendiri, balik ke kelas lagi sendiri. Begitulah kehidupanku. Semuanya serba sendiri. Semuanya berawal semenjak kejadian itu. Semenjak Mama tiada. Tepatnya dua tahun yang lalu, akibat sakit jantung yang diderita Mama sejak lama. Saat itulah aspek-aspek kehidupanku berubah 180 derajat. Mulai dari temanku, Papa, nilai-nilaiku hingga aku.
Temanku hilang satu per satu. Awalnya, mereka menjauhiku begitu saja tanpa memberitahu alasannya padaku. Namun, setelah kudesak, mereka bilang aku mulai kasar dan suka menyakiti hati mereka. Setelah itu aku mulai mengoreksi diriku dan aku berjanji aku akan berubah. Namun, temanku itu bersikukuh dan tetap tak mau menjadi temanku lagi. Termasuk Nimas. Mau apa lagi, tak mungkin aku memaksa mereka. Sekarang, aku sadar bahwa sebenarnya mereka hanya berteman denganku karena Mama. Iya, mama-ku adalah salah satu guru di SMA Swasta tempat aku bersekolah sekarang.
Dulu, mereka sering memintaku mengintip nilai mereka pada buku daftar nilai mama. Dan kalau nilai mereka rendah, maka aku diminta untuk merubah sedikit. Saat itu aku masih beranggapan bahwa hal tersebut adalah bentuk loyalitas antarteman. Suatu pemikiran yang sangat kusesali sekarang. Entah aku yang terlalu bodoh atau mereka yang terlampau licik.
Perubahan lain yang kurasakan adalah Papa yang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Seolah-olah rumahnya adalah kantornya dan kantornya adalah rumahnya. Pulang pun hanya tidur, makan, mandi, melanjutkan pekerjaannya di rumah, lalu berangkat ke kantor lagi. Papa selalu punya seribu satu alasan ketika aku meminta waktunya sebentar untuk sekadar bercerita mengenai masalah dan kegundahan hatiku ataupun pergi mencari angin segar ke taman. Bahkan, Papa seakan tak sadar bahwa ia masih punya aku, anak gadis yang sudah menginjak 18 tahun yang bernama Rima.
Dan sekarang, ketika orang-orang disekitarku saja tega menancapkan belati-belati mereka secara bersamaan ke pundakku, dunia masih berharap aku tetap menjadi diriku yang dulu? Hih, tidak mungkin! Aku sadar bahwa aku memang juga sudah berubah.
Mereka, orang-orang disekitarku dan keadaanlah yang membuatku begini. Aku, bukanlah Rima yang dulu lagi. Rima yang selalu tersenyum dan selalu mendapat peringkat 5 besar di kelas. Rima yang itu sudah hilang. Sekarang, jangankan untuk tersenyum, untuk cemberut pun lelah rasanya.
Ketika aku kembali ke kelas, salah seorang temanku menyampaikan padaku bahwa kepala sekolah ingin bertemu denganku di kantornya. Yes! ujarku dalam hati. Hal ini berarti aku tidak perlu mengikuti KBM alias Kegiatan Benar-benar Membosankan itu sampai pulang sekolah nanti. Aku tahu apa yang nanti akan dibicarakan oleh ibu kepala sekolah nanti. Dan kalau ibu kepala sekolah sudah berpetuah, seharian pun beliau tahan. Dengan perasaan senang aku pun langsung menuruni tangga menuju lokasi kantor kepala sekolah.
“Iya, masuk Nak” ucap kepala sekolah setelah aku mengetuk pintu kantornya tiga kali.
“Duduk, Nak,” lanjutnya.
“Jadi begini,” beliau memulai ceramahnya.
Sungguh nyaman ruangan ibu kepala sekolah ini. Ruangannya besar, ada televisinya di pojok. AC-nya dingin, harum wanginya empuk pula sofanya. Itulah mengapa aku senang jika dipanggil lagi ke ruangan ini meskipun aku harus merelakan kupingku yang akan sedikit kepanasan mendengar pidato beliau. Seandainya saja proses KBM diadakan disini.. mungkin tidurku akan lebih pulas. Tinggal membawa bantal kecil saja dari rumah.
“Rima, kamu dengarin ibu?” Tanya Beliau
“Dengar, Bu,” aku bilang saja aku mendengar kata-kata beliau daritadi, biar cepat. Meskipun faktanya, pikiranku sedang melanglang buana di angkasa.
Aku pasang saja tampang menyesal, beres deh. Ada yang lebih penting daripada mendengarkan Bu Kepsek (ibu kepala sekolah), yaitu memikirkan destinasi nongkrongku selanjutnya. Aku sudah bosan nongkrong di cafe yang lama. Oh, berarti aku
harus berburu cafe baru lagi! Cafe yang menyajikan makanan yang lebih mahal dari sebelumnya pastinya.
“Sebentar ya, Bu, “ ujarku di sela-sela petuah Bu Kepsek.
Mumpung lagi ingat, aku mengeluarkan telepon genggamku dari saku. Lalu, mulai mencari informasi di internet. Ah, belum ada yang sesuai dengan seleraku.
“Rima..” Bu Kepsek terdengar menarik nafas panjang
“Iya, Bu. Bentar aja, Bu. Takut lupa nanti, Bu,” jawabku dengan mata yang masih tertuju pada gawaiku.
“Rima, tolong hargai saya!” Suara Bu Kepsek terdengar meninggi.
Belum sempat aku menjawabnya, beliau sudah bangkit lalu merebut paksa telepon genggamku dari tanganku. Aku sedikit terkejut. Selama sejarahku bolak-balik dipanggil ke kantor kepsek, ini pertama kalinya beliau marah besar seperti ini. Beliau selanjutnya meletakkan telepon genggamku di atas meja.
Muka Bu Kepsek memerah dan matanya berkaca-kaca. Ia tampak mengatur nafasnya yang memburu. Wajahnya yang lelah semakin terlihat kalau sudah begini. Kantung matanya yang besar, keningnya berlipat-lipat dan garis hitam yang samar di bawah matanya. Suasana hening untuk beberapa saat hingga akhirnya secara perlahan pandangan Bu Kepsek meneduh.
“Rima, kamu tahu.. Kamu itu sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri.” Suara Bu Kepsek terdengar bergetar.
“Ibu dan Mama kamu bersahabat dari SMP, Rima.. Mama kamu itu orang yang paling kuat yang Ibu kenal. Asal kamu tahu, ibu dulu pernah hampir mengakhiri hidup ibu sendiri, Nak.. Tapi,apa.. Mama kamu mencegahnya. Mama-mu menunjukkan pada ibu kekuatan hidup sebenarnya. Dan ibu percaya itu menurun pada kamu, Nak. Kamu tidak harus seperti ini..” Berkali-kali Bu Kepsek menarik tisu di atas meja untuk mengusap butir-butir air mata yang jatuh di pipinya. Aku hanya bisa diam dan tertunduk. Bu Kepsek dan Mama adalah teman SMP? Pantas saja, selama ini, meskipun hampir
semua guru mengeluhkan tentangku, Bu Kepsek tetap memperlakukanku dengan baik. Padahal, ia juga dikenal sebagai orang yang galak.
“Ya, sudah. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas. Tapi, telepon genggam kamu ibu sita. Kamu bisa mengambilnya besok bersama Papamu..”
Aku hendak memprotes namun Bu Kepsek terlihat benar-benar tak akan mendengarkan kata-kata apa pun yang keluar dari mulutku. Aku tak punya pilihan lagi, sehingga aku pun langsung kembali ke kelas. Sebenarnya tak masalah bagiku jika Papa harus dipanggil besok, yang membuatku galau adalah aku harus bertahan sehari tanpa telepon genggamku itu. Separuh hidupku ada disitu.
Waktu pulang sekolah pun tiba. Ah, senangnya! Aku tak sabar untuk memberi ‘kabar gembira’ ini kepada Papa. Karena undangan ini datang langsung dari kepala sekolah jadi tdak mungkin Papa tidak datang. Aku pun menyetel suara musik di mobilku sekencang-kencangnya untuk merayakan kegembiraan ini. Aku tengah terhanyut dalam pikiran-pikiranku mengenai bagaimana reaksi Papa nanti ketika tiba-tiba ada mobil melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan yang sangat cepat sehingga aku langsung membantingkan setir ke kiri. Lalu, semuanya hitam.
Aku terbangun dan mendapati diriku tengah berada di rumah sakit dalam keadaan dikelilingi oleh banyak orang-orang terdekatku. Ada Bu Kepsek, Nimas dan beberapa teman yang dulu dekat denganku, teman-teman sekelasku dan ada Papa. Papa berdiri tepat di sebelah kanan ranjangku. Aneh, mereka semua berpakaian putih. Ada apa ini?
Mereka semua tersenyum padaku, lalu sedetik kemudian mereka berbalik dan pergi meninggalkanku.
Mereka mau pergi kemana? Apa yang terjadi padaku? Lalu, mengapa mereka semua pergi meninggalkanku?
Eh, tunggu, siapa itu? Mama! Mama berdiri di balik jendela ruangan rawat inap rumah sakit ini sambil berdiri. Lalu, ia tersenyum dan mulai mengangkat tangannya secara perlahan dan menunjuk ke arah sebelah kananku. Ketika aku melihat ke arah
Mama menunjuk, aku menangkap sosok Papa. Papa terus menemaniku dengan sabar dan membelaiku dengan penuh kehangatan. Tak lama, Papa berbisik di telingaku,
“Rima, bangun...”
Lalu semuanya gelap.
“Rima, papa minta maaf papa tidak bisa memberi kamu perhatian yang cukup dan belum bisa menjadi papa yang baik untuk kamu. Terlebih disaat-saat yang berat bagi kamu yaitu kepergian Mama.”
Hah? Suara Papa? Sebentar, jadi, tadi itu hanya mimpi? Mengapa semuanya hitam sekarang? Ada apa ini? Aku tidak dapat melihat apa-apa. Tolong..
“Pa..Papa..” Aku hendak berteriak namun suaraku hanya tersangkut di tenggorokan lalu hilang begitu saja. Aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Jangankan mengeluarkan suara, membuka matapun aku tak sanggup meski sekuat apapun aku mencoba. Samar-samar, kudengar Papa bersuara lagi...
“Rima, papa minta maaf. Kamu jadi begini gara-gara papa. Jujur, Nak.. Kepergian Mama-mu adalah titik terberat dalam kehidupan papa, Nak. Dengan cara menyibukkan diri sesibuk-sibuknya, papa berharap bayangan atas Mama kamu akan hilang dari kepala papa. Papa juga jadi mengabaikan kehadiran kamu di masa kini. Tapi, papa sadar sekarang bahwa cara itu salah. Dan sekarang, papa gak mau kehilangan lagi. Papa sayang sama Rima. Bangun, ya Nak. Jangan tinggalin papa sendiri..”
Papa terdengar merintih dan terisak. Sungguh memilukan mendengar suara Papa dalam keadaan begini. Satu-satunya hal yang sangat ingin kulakukan saat ini adalah memeluk Papa. Tapi, seluruh tubuhku benar-benar kaku. Aku tidak dapat menggerakkan satu sendi pun. Pa, papa! Maafin Rima, Pa. Rima yang salah, bukan Papa,. ucapku dalam hati.
Penyesalan memang selalu di akhir. Kini aku tahu alasan kesibukan luar biasa Papa selama ini. Aku benar-benar merasa bersalah sekarang. Aku sadar sekarang bahwa aku terlalu banyak menuntut. Aku meminta agar orang-orang di sekitarku memahamiku,
sedangkan aku berlaku sesuka-ku. Aku bahkan tidak sadar bahwa selama ini Papa masih berduka akibat kepergian Mama. Lalu, dengan didasari oleh pikiran negatif-ku tentang Papa yang mengabaikanku, kulakukan perbuatan-perbuatan yang tidak hanya menyakiti diriku sendiri, tapi juga orang-orang yang menyayangiku.
Sekarang, satu-satunya harapanku adalah Tuhan. Tuhan, maaf. Ampuni aku ya Tuhan. Kumohon, berikanlah kesempatan padaku untuk hidup. Aku ingin memperbaiki semuanya, ingin berubah. Tuhan, hanya Engkau-lah yang dapat mendengarku saat ini. Tanpa perlu bibirku bergerak, tanpa perlu suara keluar dari tenggorokanku, Kau akan selalu mendengarku. Sekarang aku sadar Tuhan..
“Dok, jarinya bergerak, Dok!” Terdengar teriakan Papa.
Aku merasakan sesuatu terjadi pada tubuhku. Kubuka mataku perlahan dan butuh waktu agak lama bagi mataku untuk dapat menyesuaikan dengan cahaya di ruangan rumah sakit ini. Entah sudah berapa lama aku disini, terbaring dengan keadaan selang menempel di tangan, badan dan hidungku. Kuarahkan pandanganku ke sisi sebelah kiri ranjang. Ada Papa dan seseorang yang sepertinya adalah dokter. Papa terlihat kacau, rambutnya berantakan, matanya membengkak dan hidungnya memerah. Setelah melihatku, senyum penuh haru terlukis di wajah Papa. Perlahan butiran kristal bening meluncur dari kedua belah mataku. Terima kasih, Tuhan..
“Pa—“
“Iya?” Papa mendekatkan kepalanya kepadaku,
“Ternyata Papaku sayang ini cengeng ya,” bisikku pada telinga Papa. Papa hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
***
Tiga bulan telah berlalu semenjak kejadian kecelakaan yang menyebabkan diriku mengalami koma selama tiga hari itu. Kini, aku telah pulih dan telah kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Aku menjalin pertemanan kembali dengan Nimas, meskipun tak sedekat yang dulu. Aku juga berusaha untuk mengejar segala ketertinggalanku di sekolah
dan memperbaiki nilai-nilaiku. Papa juga sudah kembali menjalani kesibukannya seperti biasa. Sekarang, kalau Papa sedang merindukan Mama maka Papa akan menceritakannya padaku dan kami akan merindukan Mama bersama-sama. Begitupula denganku. Ketika aku sedang sedih maka aku akan berbagi dengan Papa.
Terkadang, masalah besar dalam hidup kita justru disebabkan oleh hal yang kecil. Saling komunikasi dan memahami misalnya. Padahal, kalau dipikir lagi, seandainya dari awal Papa berbagi padaku mengenai Mama, mungkin beban Papa akan sedikit berkurang dan rindu Papa tak akan bertumpuk-tumpuk. Namun, yang terjadi biarlah terjadi. Biarlah ia menjadi kisah yang menjadi pewarna bagi hidupku. Kisah yang dapat bermanfaat bagi diriku dan orang-orang yang mengetahui kisahku itu.
Komentar
Posting Komentar