Cerpen; Dasawarsa pt I


OKEE jadi ini adalah cerpen ala-ala  karya ku sendiri xD mohon maaf kalau gaje/ganyambung,dll. maklum, masih newbie :p . Ohya, lanjutannya ntar di post selanjutnya okee.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah 2 jam aku hanya  duduk bersembunyi di balik pohon cemara di pinggir pantai ini. Selama dua jam  itu pulalah  aku berkutat dengan diriku sendiri. Berusaha memberanikan diri untuk menghampirimu. Kamu, gadis manis berpipi merah yang telah membawa kabur hatiku sejak 10 tahun yang lalu.
Aku sudah kenal dengan kebiasaanmu. Kamu akan datang setiap tanggal 8 pada bulan Oktober. Biasanya kamu akan datang ke pantai ini, ditemani dengan ransel merahmu ketika langit mulai berwarna kemerahan. Dan seperti dugaanku, hari ini kamu datang lagi. Kali ini aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan mengungkapkan isi hatiku selama ini.
Tetapi, hingga semut-semut mengirim pasokan makanannya dari ujung pohon ketapang yang rindang ini ke lubang  tempat tinggalnya di dalam tanah , aku belum bergerak sedikitpun. Ayolah, pengecut! Gerutuku pada diri sendiri yang daritadi hanya bisa memandangi punggungmu dari belakang. Hingga akhirnya, aku mendengar suara sesenggukan yang sepertinya berasal darimu. Inilah saatnya, pikirku. Kali ini, aku harus maju bagaimanapun itu.
Sambil berjalan, aku terus menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku, menenangkan jantungku yang seperti sedang konser. Perlahan kuulurkan tanganku untuk menyentuh pundakmu, sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk kuucapkan. Namun, ketika kamu menoleh dan menatap mataku dengan tatapan sembabmu itu, keberanianku runtuh,  semua kata-kata yang telah kususun sedemikian rupa di dalam otakku tiba-tiba menghilang. Aku  tidak dapat memikirkan apa-apa, sehingga yang muncul dari bibirku malah,
E..eh.. maaf mba nggak bermaksud mengagetkan. Tapi, mba kenapa? Ada yang bisa saya bantu? Jujur nih mba, saya paling tidak bisa melihat wanita menangis.
Setelah itu kamu memang menjawabku. Tapi, aku tahu kamu berbohong. Kenapa kamu tidak mau jujur saja padaku? Katakan saja, ceritakan saja semua masalah, bebanmu padaku. Biarkan aku ikut merasakan pedihmu, sedihmu, laramu. Berbagilah denganku.
Baiklah, sekali lagi, aku akan menanyakannya padamu.  Tapi kali ini, jawabanmu justru semakin membuat hatiku sakit. Baiklah, kuakui wajar saja.. tidak mungkin kan kamu bercerita pada ‘orang asing’. Kamu pasti sudah lupa padaku, iya kan?
Tidak, ini tidak akan berhasil. Kuurungkan niatku untuk mengutarakan perasaanku. Tidak akan ada gunanya. Ia bahkan tidak mengenalku. Aku sudah merasa ditolak bahkan sebelum menyatakan cintaku padanya. Sehingga akupun memutuskan untuk pergi. Namun, bodohnya aku yang tanpa sengaja mengucapkan namamu dan hampir membuatmu curiga. Kamu pasti hampir mengiraku seorang penguntit. Tapi, beruntung kulihat gantungan kunci berwarna merah pada ransel merahmu itu yang bertuliskan namamu. Kugunakan saja itu sebagai alasan. Maafkan aku yang berbohong padamu, Alya.
Aku pun kembali duduk berlindung dibalik pohon ketapang ini. Tidak berani memandangmu sedikitpun. Sesak memenuhi relung hatiku. Aku gagal lagi. Bermacam emosi mengepul di dalam dadaku. Namun, ketika memandang wajahmu tadi, aku menangkap sesuatu. Ada yang berubah darimu. Anting-anting di hidungmu, kantung matamu yang kain membesar, suaramu yang terdengar penuh beban dan sorot matamu yang penuh sendu. Tidak bercahaya seperti ketika aku melihatnya terakhir kali.
Setelah merenungi ke-pengecutanku untuk beberapa saat, aku teringat bahwa aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak peduli lagi, hari ini, di pantai ini, aku benar-benar harus mengatakannya padamu. Aku juga tak tahan melihatmu larut dalam kesedihanmu seorang diri seperti itu. Aku tidak berharap kamu membalas cintaku, inginku kamu membagi kesedihanmu padaku. Apa pun masalahmu, yang mengganjal hatimu, ceritalah padaku. Pukul lah aku kalau memang itu membuatmu lega. Aku hanya ingin kamu bahagia. Seperti dulu. Sebelum kejadian itu..
Namun, ketika aku bangkit, kulihat kamu sudah tidak ada disana. Hanya ada buku berwarna merah yang tertinggal di tanah, tampaknya ini diari-mu. Dan benar saja, buku ini berisi curahan-curahan hatimu. Puisi-puisi mengenai Cika, sahabatmu itu.
Ketauhilah, aku ada pada saat kejadian itu, Alya. Kamu tahu? Selepas kamu berlari dengan pipi merahmu meninggalkan rumahku, aku langsung dengan kilat membuatkan teh tarik yang baru untukmu dan berlari mengejarmu. Ketika aku sudah cukup dekat denganmu, aku lihat 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat duduk di Kereta Logawa

Welcome to the Working world hey freshgrads!

Materialists