Psychosocial Concepts for Understanding Disability
Hello guys!
Disini aku pengen share resume kuliah tamu Psikologi Disabilitas-ku.. Jadi tuh ceritanya kemarin-kemarin waktu lagi ngerjain resume ini, kepikiran gitu, hmm kayanya sabi nih buat di share di blog juga.. siapa tau membantu yang membutuhkan, bermanfaat atau gimana gitu :D So here it is~
RESUME KULIAH TAMU PSIKOLOGI DISABILITAS
Hari, tanggal :
Kamis, 10 Maret 2022 (08.30 – selesai )
Pembicara :
Ibu Unita Wedi Rahajeng, S. Psi., M.Psi., Psikolog
Topik :
Psychosocial Concepts for Understanding Disability
“Psychosocial Concepts for
Understanding Disability”
Terdapat 4 sub-tema utama
yang dibahas yaitu insider vs outsider, acceptance, coping & adjustment dan
identity.
1.
Insider vs outsider
Insider
yang dimaksud disini ialah orang-orang yang memiliki pengalaman disabilitas
sedangkan outsider adalah orang-orang yang tidak memiliki pengalaman disabilitas.
Pengalaman
penyandang disabilitas bersifat subjektif. Apa yang dipikirkan oleh outsider
mengenai pengalaman disabilitas seringkali kurang akurat. Outsider sering
memandang menjadi disabilitas sebagai pengalaman buruk. Fenomena focusing
illusion atau naïve realism.
Kualitas
hidup penyandang disabilitas
Masih
banyak jurnal di Indonesia yang menuliskan “penyandang disabilitas itu memiliki
kesejahteraan psikologis yang rendah”. Namun sebenarnya banyak penelitian yang
mengatakan bahwa quality of life terutama well-being penyandang disabilitas itu
tidak jauh berbeda dengan orang non disabilitas. Kalau dilihat quality of
life-nya dilihat dari income, kesempatan untuk berpartisipasi, memang
penyandang disabilitas lebih rendah daripada non disabilitas. Namun pada
faktnya banyak jurnal yang mengatakan bahwa penyandang disabilitas tidak
memikirkan kondisi disabilitasnya dalam banyak waktunya. Pada banyak fase,
penyandang disabilitas. Seringkali penyandang disabilitas itu baru terpikir
atau tertrigger untuk berpikir mengenai disabilitasnya pada saat ia berada di
kondisi yang tidak accessible. Maka, kita sebagai outsider mau tidak mau
perlu mengakui bahwa kita masih sangat tidak tahu mengenai dunia disabilitas
secara pasti. Untuk lebih mengetahui maka untuk kedepannya diperlukan lebih
banyak ilmuwan dengan disbailitas yang terlibat untuk menyuarakan
pengalamannya. Kalau ingin meneliti mengenai penyandang disabilitas, sangat
penting untuk mendengarkan pendapat/suara dari penyandang disabilitasnya secara
langsung. Masih banyak jurnal psikologi di Indonesia yang bias, hal ini
cukup menarik untuk diteliti yaitu mengenai naïve realism.
2.
Acceptance
Biasanya
isu mengenai acceptance itu merupakan isu yang berhubungan dengan
disabilitas acquired, yang mana ia sebelumya merupakan outsider kemudian
ia menjadi insider. Dimana acceptance ini berhubungan dengan
konsep grief. Sebelumnya dia baik-baik saja, kemudian didiagnosis dan
terkejut dan harus menerima keadaan atau kondisi barunya. Pada concept acceptance
of disability, ada sedikit perbedaan. Acceptance of disability banyak
digunakan oleh praktisi dalam rehabilitasi psikologi untuk membantu orang-orang
disabilitas agar bisa meningkatkan/fokus pada strengthnya atau hal-hal yang
masih bisa atau mungkin dapat dikerjakan lebih optimal lagi. Sehingga hal ini
terkait dengan pengubahan persepsi dan value pada penyandang disabilitas tersebut.
Kalau pada teori Grief/duka, acceptance merupakan tahap paling akhir. Namun,
pada kasus penyandang disabilitas, acceptance merupakan tahap awal, setelah itu
akan ada perjalanan panjang. Sehingga acceptance pada penyandang disabilitas
itu seperti pintu pembuka. Setelah itu, ada meaning reconstruction. Kunci utama
penerimaan pada penyandang disabilitas adalah penerimaan dan dukungan dari
lingkungan, sehingga dalam hal ini pihak yang paling berharga/signifikan adalah
keluarga.
Contohnya:
Seorang
banker, ayah balita 4 tahun, mengalami kecelakaan sehingga harus diamputasi
kakinya dan menggunakan kursi roda.
Strateginya:
a. Enlarging
the scope of values à memperluas valuesnya. Selama ini value
nya apa? Sesuatu yang berharga dalam hidupnya? Maka dalam kasus ini, misalkan
values sang ayah adalah menjadi ayah bagi anaknya. Maka praktisi psikologi
dalam hal ini dapat memberikan pandangan bahwa; menjadi ayah yang ideal tidak
hanya terbatas pada “menemani anak bermain bola” tapi bisa juga mendampingi
anak belajar, membaca.
b. Subordinating
physical concerns relative to other value à kalau
permasalahannya adalah permasalahan fisik, maka dapat membantu disabilitas
untuk tidak hanya fokus pada permasalahan fisik. Berkaitan dengan isu
“kecantikan/ketampanan”. Maka dapat memberikan pandangan bahwa cantik itu tidak
hanya dilihat dari fisik, namun juga personality, skill, dan sebagainya.
c. Containing
spread effects à berusaha menciptakan keluarga/lingkungan
agar ramah pada penyandang disabilitas. Keluarga yang memberikan dukungan pada
penyandang disabilitas, lingkungan rumah yang accessible dan sebagainya.
d. Transforming
comparative-status values into asset values à tidak
membandingkan dirinya dengan non disabilitas atau disabilitas lain tapi dengan
dirinya sendiri. Praktisi membantu disabilitas untuk tidak membandingkan
dirinya dengan utamanya, non disabilitas. Contohnya: “Saat ini aku lebih lancer
menggunakan kursi roda daripada
kemarin”.
“ketika kita meminta penyandang
disabilitas untuk dapat “menerima” kondisi disabilitasnya, apakah kita sebagai
outsider sudah menerima penyandang disabilitas?”
3.
Coping & adjustment
Isu
ini lebih lekat pada penyandang disbailitas acquired disability dibandingkan conginetal
disability. Coping framework à berfokus pada
konsekuensi atau kesulitan yang akan dihadapi karena kondisi disabilitasnya
lalu mencari resolusi terhadap problem terkait disabilitasnya dan fokus pada
sumber-sumber yang memunculkan kepuasan.
Pada coping, penyandang disabilitas: aktif dan mandiri, berpartisipasi
dan terlibat, fokus pada asset dan kualitas intrinsic diri, tidak merendahkan
diri, ketrampilan dan keterbatasan yang dimilikinya, berusaha menyingkirkan
hambatan fisik dan sosial, dapat mengelola aspek negative dalam kehidupan
sehari-hari, dapat memahami dan emnerima keterbatasan, mencari bantuan dan
beradaptasi dan dapat lebih memahami meaning dari hidup dan mendapat kepuasan
hidup. Succumbing framework à berfokus pada aspek negative dari
pengalaman disabilitas dan memandang tidak dapat lepas dari kesulitan akibat
disabilitasnya. Praktisi psikologi sebaiknya mengarahkan/membantu penyandang
disabilitas untuk melakukan coping framework tersebut. Pada succumbing framework ini penyandang
disabilitas masih pasif dan bergantung pada orang lain, masih fokus pada “kehilangan”
atau “ketidakmampuan”, menggunakan acuan “normal” atau kelompok non
disabilitas, memandang dirinya adalah korban keadaan, sering berandai dirinya
tidak memiliki disabilitas, mengasihani diri dan penyandang disabilitas,
berpikir bahwa berobat atau terapi adalah satu-satunya cara untuk adaptasi.
-
Resiliensi à lekat pada
individu disabilitas acquired. Untuk dapat resilien biasanya dibutuhkan suatu
kondisi sulit sehingga lalu bisa berdiri kembali. Seperti pantulan bola,
dibutuhkan bola yang jatuh dulu agar bisa memantul lebih tinggi. Resiliensi
pada penyandang disbailitas menggambarkan coping dan adjustment yang adekuat.
- Dalam bekerjasama dengan penyandang disabilitas, penting untuk memperhatikan factor resiko pada penyandang disabilitas itu tersebut.
-
Langkah menjadi resilien:
o
Menerima disabilitas sebagai bagian
hidupnya à
berhubungan dengan acceptance tadi
o
Problem-focused & task-focused
strategies
o
Memiliki harapan
o
Memandang suatu kejadian – khususnya yang
negative – dalam perspektif seimbang
o
Terhubung secara sosial dengan keluarga,
dan teman
o
Tantangan à bagaimana
praktisi dan ahli di bidang psikologi membantu penyandang disabilitas untuk
menjadi resilien?
4.
Disability Identity
Identitas
ini adalah bagian dari konsep diri, yang mendefinisikan diri individu. Ketika
memikirkan disabilitasnya, apa yang ia pikirkan? Identitas dan konsep diri itu
ada di pikiran kita, yang nantinya akan berdampak ke perilaku kita, cara kita
berinteraksi dan sebagainya. Biasanya pengalaman masa kanak-kanak itu berdampak
pada penghayatan kita terkait dengan identitas kita di masa selanjutnya.
Penghayatan yang paling terasa itu biasanya di masa remaja (teori Erickson).
Identitas ini tidak statis, karena berkembang sepanjang hayat.
Olkin
(1999) membagi identitas disabilitas dalam derajat terendah sampai tertinggi.
Derajat tertinggi à individu yang memiliki perasaan dan
keyakinan yang kuat bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok penyandang
disabilitas. Derjat tertinggi ini dianggap adaptif, ideal dan mendukung
inklusivitas.
a. Sangat
rendah/tidak ada à individu tidak merasa dirinya adalah
bagian dari kelompok penyandang disabilitas.
b. Rendah
à
gamang. Merasa dirinya adalah penyandang disabilitas tapi diragukan secara
sosial. Biasanya penyandang disabilitas yang hidden atau tidak terlalu
“tampak”. Biasanya ragu terkait statusnya karena lingkungan.
c. Sedang
à
keyakinan yang kuat bahwa dirinya adalah penyandang disabilitas dan menjadi
inti pembentukan identitasnya. Banyak mengaitkan aktivitasnya dengan
“disabilitas”.
d. Tinggi
à sangat
kuat. Solidaritas terhadap kelompok penyandang disabilitas. Biasanya terlibat
dalam gerakan-gerakan mendukung disabilitas/inklusivitas.
Pekembangan identitas disabilitas (Gill,
1997). Teori ini juga didasarkan oleh kelompok-kelompok marginal seperti LGBTQ,
minority ethnic, dll yang biasanya juga melewati tahapan ini.
1. Belongingness
à
kesadaran yang dimiliki individu bahwa ia adalah bagian dari kelompok
penyandang disabilitas
2. Coming
home à
kesadaran yang dimiliki individu bahwa terdapat banyak kesamaan yang dimiliki
dirinya dan penyandang disabilitas lain.
3. Coming
together à
kesadaran bahwa dirinya memiliki kesamaan pula dengan kelompok non disabilitas.
Misalnya ia juga memiliki identitas sebagai seorang ayah, mahasiswa, dan
sebagainya, yang sama dengan kelompok non disabilitas.
4. Coming
out à
individu sudah melakukan pengekspresikan identitas disabilitas di lingkup luas
dengan cara yang dapat dietrima kelompok mayoritas.
Status
identitas disabilitas (Forber Pratt & Zape, 2017)
1. Acceptance
à
penyandang disabilitas menerima kondisi disabilitasnya, mendapat penerimaan
dari lingkungannya
2. Relationship
à
penyandang disabilitas bertemu dan berinteraksi dengan sesame penyandang
disabilitas, mempelajari budaya disabilitas
3. Adoption
à penyandang
mengadopsi nilai-nilai dalam budaya disabilitasnya, penyandang disabilitas
memiliki keterikatan kuat dengan komunitas disabilitas.
4. Engagement
à
penyandang disabilitas menjadi role model bagi penyandang disabilitas lain,
berkontribusi pada komunitas penyandang disabilitas dan membantu disabilitas di
status lainnya.
Jurnal
terkait identitas disabilitas pada masa remaja à Rahajeng, U. W.
(2021). Mengembangkan identitas disabilitas yang positif bagi remaja penyandang
disabilitas. Dalam Dinamika perkembangan remaja: Problematika dan solusi.
Prenadamedia.
Urgensi identitas disabilitas:
-
Identitas penyandang disabilitas merupakan
aspek yang berperan bagi penyandang disabilitas untuk menghadapi tantangan
stigma.
-
Identitas penyandang disablitas dapat
berkontribusi pada berbagai hal positif seperti kesehatan metal (Bogart, 2015),
sikap terhadap rehabilitasi (Hahn & Belt, 2004), dan political activism
(Schur, 1998).
-
Identitas disabilitas yang sehat lebih
sulit untuk dicapai pada kelompok hidden disability.
-
Penyandang disbailitas tidak hanya
memiliki disabilitas sebagai identitasnya, ada pula identitas lain seperti
pelajar, pekerja, umat beragama, etnis, gender, dll.
-
Tantangan terhadap penghayatan identitas
akan semakin besar ketika memiliki isu “intersectional identity” pada kelompok
marginal lain.
- Tantangan praktisi dan ilmuwan psikologi; bagaimana psikologi sebagai ilmu berkontribusi dalam pengembangan identitas disabilitas yang positif?
Sumber referensi:
Forber-Pratt, A. J., & Zape, M. P. (2017). Disability identity development model: Voices from the ADA-generation. Disability and Health Journal, 10(2), 350-355.
Gill, C. J. (1997). Four types of integration in disability identity development. Journal of Vocational Rehabilitation, 9(1), 39-46.
Rahajeng, U. W. (2021). Mengembangkan identitas disabilitas yang positif bagi remaja penyandang disabilitas. Dalam Dinamika perkembangan remaja: Problematika dan solusi. Prenadamedia.
Olkin, R. (2002). Could you hold the door for me? Including disability in diversity. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 8(2), 130.
Komentar
Posting Komentar